• gambar
  • Adiwiyata
  • banner1
  • banner2

KEMBALI KE SEKOLAH DENGAN PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS (PTMT)

Pencarian

Kontak Kami


SMP NEGERI 5 PASURUAN

NPSN : 20535442

Jl.Trunojoyo No.291 Pasuruan Jatim 67121


info@smpn5kotapasuruan.sch.id

TLP : 0343426270


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana tanggapan anda (siswa) tentang pelaksanaan pembelajaran online
Menyenangkan
Kurang Menyenangkan
Tidak Menyenangkan
  Lihat
Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 214290
Pengunjung : 87814
Hari ini : 46
Hits hari ini : 87
Member Online : 25
IP : 52.205.167.104
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Intan Bakti Setiawan, S.Pd (Guru)
    2018-01-06 12:25:12

    Almd
  • Henggo Kusumo, S.Pd (Guru)
    2018-01-06 12:25:10

    Alhamdulillah.. Luar biasa
  • Ina Agustina, S.Pd (Guru)
    2018-01-06 12:23:41

    Selamat siang...tetap semangat Happy weekend
  • Khasan Basori, S.Kom (Guru)
    2018-01-06 10:43:27

    Pasword lab.komputer: spamatetapjaya
  • Khasan Basori, S.Kom (Guru)
    2018-01-06 10:42:06

    Pasword ruang guru: guruspama Pasword ruang meeting: meetingspama
  • Boirin, S.Pd (Guru)
    2017-12-29 10:05:55

    Apa yang Anda pikirkan?
  • Nasyiyatul Aisyiyah, S.Pd (Guru)
    2017-06-02 08:39:00

    bug?
  • Nasyiyatul Aisyiyah, S.Pd (Guru)
    2017-06-02 08:39:00

    bug?
  • Nasyiyatul Aisyiyah, S.Pd (Guru)
    2017-05-12 19:01:00

    1|1

Mengenang 75 Tahun Insiden Penyobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Artikel ini telah tayang di K




Penulis Nur Fitriatus Shalihah | Editor Jihad Akbar KOMPAS.com - Hari ini, 75 tahun lalu atau tepatnya 19 September 1945, terjadi insiden di Hotel Yamato, Surabaya.

Saat itu, arek-arek Surabaya melakukan penyobekan bendera Belanda, sehingga menyisakan warna merah dan putih saja. Peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena bentuk perlawanan terhadap penjajahan. Untuk mengenang peristiwa tersebut, pada tahun-tahun sebelumnya diadakan reka ulang atau drama di sekitar Hotel Yamato, yang sekarang bernama Hotel Majapahit.

Dikutip Harian Kompas, 11 September 2000, pada tanggal 19 September 1945 pukul 06.00 WIB, tentara Belanda yang tergabung dalam tentara Sekutu menaikkan bendera Belanda berwarna merah-putih-biru di atas puncak Hotel Yamato. Pengibaran bendera itu membuat warga Surabaya marah. Ribuan warga yang sebagian besar pemuda segera berkumpul di depan hotel. Sebagian pemuda memakai seragam hitam, yang biasa dipakai oleh Jibakutai, barisan berani mati.

Menurut Sudi Suyono, salah seorang pemuda yang dikutip dari buku berjudul Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (1994), massa terus datang mengalir. Jalan Tunjungan, halaman hotel, serta halaman toko yang berdampingan penuh massa dengan luapan amarah. Agak ke belakang halaman hotel itu, beberapa tentara Jepang tampak tenang berjaga di posnya. Ketika kerumunan semakin memadat, muncullah Residen Sudirman dengan mobil hitamnya. Mobil itu sudah dikenal dan massa pun menyibak memberi jalan. Residen Sudirman masuk ke hotel diikuti beberapa pemuda, di antaranya Sidik dan Hariyono. Residen Sudirman ditemui Ploegman, yang mengaku sebagai perwakilan Sekutu. Tak basa basi, Residen Sudirman langsung membicarakan masalah inti, meminta supaya bendera Belanda diturunkan. Namun Ploegman tak mau. "Tentara Sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota Sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui," kata Ploegman.

Kemudian Ploegman pergi ke belakang dan muncul kembali dengan menggenggam sepucuk pistol. Dia mengancam Pak Dirman dengan bentakan keras. Sidik dan Hariyono yang mendampingi Pak Dirman segera menendang pistol dari tangan Ploegman. Pistol itu meletus dengan laras ke atas. Hariyono bergegas membawa Pak Dirman ke luar hotel. Sementara itu, Sidik bergulat dengan Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Namun, Sidik pun akhirnya tersungkur kena sabetan kelewang tentara Belanda yang datang karena mendengar bunyi letusan pistol.

Di luar hotel, beberapa pemuda memanjat dinding hotel dan naik sampai ke puncak. Hariyono, yang tadi membawa Pak Dirman ke luar dari hotel, ada di antara pemuda-pemuda itu. Pemuda Kusno Wibowo telah ada di dekat tiang dan menurunkan bendera Merah-Putih-Biru. Dari atas, ia meminta supaya diberikan bendera Merah-Putih, tetapi tidak ada yang bisa memenuhi permintaannya. Kusno Wibowo dan Hariyono tidak kehabisan akal.

Bendera Belanda yang sudah diturunkan itu dirobek bagian birunya sehingga tinggal merah dan putihnya. Setelah itu, Kusno Wibowo dan Hariyono mengibarkan kembali bendera Merah-Putih di tiang yang sama. Peristiwa Bendera di Hotel Yamato ini tidak saja merupakan ujian bagi Belanda, tetapi merupakan ketentuan yang harus diperhitungkan pemimpin Indonesia tentang rencana Belanda kembali menjajah Indonesia.

Hotel Yamato Hotel ini dibangun pada 1910 dengan nama Hotel Oranje. Saat pertama kali didirikan, hotel itu bergaya colonial art nouveau. Arsiteknya, J Afprey, orang Belanda. Pendirinya adalah Lucas Martin Sarkies, berasal dari keluarga Sarkies yang terkenal sebagai pemilik kerajaan hotel di Asia. Nama hotel yang terletak di Jalan Tunjungan, Surabaya, itu beberapa kali berubah.

Mulai tahun 1996, hotel tersebut bernama Hotel Majapahit Mandarin Oriental. Hotel bintang lima itu kini dicat berwarna putih. Padahal mulanya berwarna oranye pekat, seperti namanya. Pada pertengahan Perang Dunia II (1942), Hotel Oranje diambil alih penjajah Jepang dan dijadikan barak militer dan kamp tahanan sementara untuk perempuan dan anak-anak yang akan dipindahkan ke Jawa Tengah. Nama hotel pun diganti menjadi Hotel Yamato.

Nama ini hanya bertahan tiga setengah tahun, saat penjajahan Jepang. Kamar-kamar yang mempunyai nilai sejarah adalah kamar Merdeka nomor 33 dan kamar Sarkies nomor 44. Kamar Merdeka adalah kamar yang ditempati Residen Belanda saat terjadi perobekan bendera Belanda. Kamar yang dulunya memiliki pintu rahasia tersebut sempat diserbu pemuda Surabaya ketika mendesak penurunan bendera Belanda. Sedangkan, kamar Sarkies adalah kamar tempat keluarga Sarkies, pendiri Hotel Oranje yang selalu singgah di sana apabila datang ke Surabaya. Di kedua kamar yang termasuk kelas suites itu diletakkan foto dan narasi mengenai sejarah yang terkait pada kamar tersebut.




Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :

 

Komentar :

Pengirim : osouwupemoxi -  [uqocik@pazew.fodiscomail.com]  Tanggal : 24/10/2021

<a href=http://slkjfdf.net/>Vekotedev</a> <a href="http://slkjfdf.net/">Nejisaivi</a> bbq.xlyw.smpn5kotapasuruan.sch.id.wji.im http://slkjfdf.net/


Pengirim : aquromopsoteh -  [uxawehete@pazew.fodiscomail.com]  Tanggal : 24/10/2021

<a href=http://slkjfdf.net/>Asagarak</a> <a href="http://slkjfdf.net/">Oqovin</a> dyr.mesz.smpn5kotapasuruan.sch.id.ruf.rx http://slkjfdf.net/



   Kembali ke Atas